rizka...^_~

Lembaga Keuangan Non-Bank dan Bank (Perusahaan Keuangan) di Indonesia

Lembaga Keuangan Non-Bank dan Bank (Perusahaan Keuangan) di Indonesia 

 

Perusahaan Keuangan merupakan lembaga yang melaksanakan fungsi utama menyalurkan dana dari yang surplus/ berlebih kepada mereka yang kekurangan dana. Adapun jenis-jenis perusahaan keuangan adalah sebagai berikut:

  • Bank Komersial (Commercial Banks): lembaga simpanan yang memiliki asset utama berupa pinjaman dan kewajiban utama lain yaitu tabungan (deposits). Pinjaman komersial beraneka ragam, meliputi konsumen, komersial dan pinjaman real estate, dari institusi tabungan lainnya. Kewajiban bank komersial meliputi lebih banyak sumber dana, seperti subordinates notes atau debentures, daripada lembaga simpanan lainnya.
  • Thrifts: lembaga simpanan dalam bentuk tabungan antau pinjaman, savings banks dan credit unions. Thrits umumnya melakukan jasa yang mirip dengan bank-bank komersial, tetapi merek cenderung berkonsentrasi pada pinjaman mereka dalam satu segmen, seperti pinjaman real estate dan pinjaman konsumen.
  • Perusahaan asuransi: lembaga keuangan yang menjaga individu dan perusahaan (policy holders)  dari even/kejadian yang buruk. Perusahaan asuransi jiwa menyediakan penjagaan dalam kejadian seperti kematian, penyakit, dan pensiun. Asuransi Property Casualty menjaga terhadap luka pribadi dan kewajiban akibat kecelakaan, pencurian, kebakaran dan sebagainya.
  • Perusahaan sekuritas dan bank investasi: lembaga keuangan yang menjamin sekuritas dan terlibat dalam kegiatan sehubungan seperti broker surat berharga, jual beli surat berharga, dan menghasilkan pasar dimana surat berharga diperdagangkan
  • Perusahaan Pembiayaan (Finance companies): Lembaga penghubung keuangan yang memberi pinjaman kepada individu dan bisnis. Tidak seperti lembaga simpanan, perusahaan pembiayaan tidak menerima simpanan tetapi pembiayan untuk hutang jangka pendek dan jangka panjang.
  • Reksa dana (Mutual Funds) :lembaga keuangan  yang menawarkan rencana simpanan dimana dana milik partisipan mengakumulasi tabungan selama tahun bekerja mereka sebelum diambil selama tahun penisun mereka. Dana-dana yang pada dasarnya diinvestasikan dan berakumulasi dalam dana pensiun terbebas dari pajak saat ini.

Fungsi Ekonomi yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan 

Sistem Keuangan telah menciptakan cara alternatif dan tidak langsung kepada investor (atau pemberi dana) untuk menyalurkan dana kepada pengguna dana. Ini merupakan transfer dana tidak langsung (indirect transfer) dana kepada pengguna dana melalui perusahaan keuangan. Perusahaan keuangan mengurangi biaya monitoring, resiko likuiditas dan resiko harga yang dihadapi penyumbang dana dibandingkan ketika mereka berinvestasi secara langsung pada klaim keuangan, dengan cara berikut:

  • Biaya Monitoring : Penjumlah dana agregat di Perusahaan keuangan memberikan insentif yang lebih besar untuk mengoleksi informasi perusahaan dan memonitor tindakannya. Bentuk yang relatif besar dari Perusahaan Keuangan memungkinkan pengumpulan informasi diperoleh pada biaya rata-rata yang lebih rendah (economies of scale).
  • Resiko likuiditas dan harga: Perusahaan keuangan menyediakan klaim keuangan kepada rumah tangga dengan atribut likuiditas yang superiro dan resiko harga yang lebih rendah.
  • Jasa biaya transaksi: Mirip dengan economies of scale dalam biaya produksi informasi, ukuran perusahaan keuangan dapta menghasilkan economies of scale dalam biaya transaksi.
  • Intermediasi maturitas: Perusahaan keuangan dapat menanggung resiko maturitas tidak sama (mismatching the maturities dari aset dan kewajiban mereka.
  • Denominasi Intermediasi: Perusahaan keuangan seperti reksa dana memperbolehkan investor kecil untuk mengatasi hambatan membeli aset dengan ukuran denominasi minimum yang besar.

A. Pendekatan Broker/Dealer 

·         Hal ini dilakukan dengan cara demikian. Pertama,  jika Perusahaan keuangan (PK) bertindak sebagai broker, mendatangkan pembeli dan penjual tanpa bertindak sebagai principal dalam transaksi, jadi kita tidak akan mengharapkan untuk melihat aset keuangan pada Neraca PK. PK akan sekedar menghubungkan pembeli dan penjual sehingga mereka dapat men-transfer aset keuangan antara mereka tanpa aset-aset perlu bergerak melalui PK. Teknologi broker merupakan bentuk dari intermediasi keuangan, tetapi hal itu berjalan seiringan dengan pendekatan dealer. Sebuah dealer membuat pasar dalam suarat berharga keuangan (financial security), oleh sebab itu juga bertindak sebagai principal dalam transaksi keuangan.

·         Broker dan Dealer bekerja secara bersama-sama dengan cara sebagai berikut, jika ada seorang klien ingin menjual saham asing yang jarang diperdagangkan (thinly traded). PK dalam kapasitasnya sebagai broker, mencari pembeli tetapi tidak dapat memperoleh harga pasar yang pas (fair market value). Untuk menyenangkan konsumen (dan juga menghasilkan uang), PK dapat menawarkan untuk membeli saham atas namanya sendiri. Jika tawaran diterima, perdagangan dilakukan, dengan PK sebagai principal (dalam hal ini pembeli) terhadap transaksi. Saham ditempatkan dalam persediaan (inventory) PK dan muncul di neraca sebagai aset keuangan hingga aset itu akhirnya terjual, mungkin sebagai respons terhadap pesanan konsumen lain untuk membeli.

·         B. Transformasi Aset (Asset Transformation)

·         Dalam operasi broker/dealer, Perusahaan Keuangan (PK) merupakan saluran bagi penerbit (issuer)  atau penjual (seller) untuk meraih para pembeli yang potensial. PK sendiri transparan karena pembeli dapat melihat (see through) melalui PK hingga penerbit awal dari sekuritas. Ketransparan dari PK penting bagi pembeli agar dapat mengevaluasi karakteristik resiko/return  dari sekuritas keuangan karena arus kas surat berharga dibayar oleh penerbit, bukan oleh PK. Bagaimanapun, teknologi broker/dealer bukanlah satu-satunya pendekatan yang tersedia bagi intermediasi keuangan. Jika PK dalam beberapa hal menjamin atau mengubah arus kas surat berharga, maka kadang pembeli tidak perlu mengetahui identitas penjual atau penerbit. Sebenarnya, PK dapat menempatkan dirinya antar pembeli dan penjual dengan mengubah karakteristik dari surat berharga keuangan. Surat berharga keuangan yang datang menuju PK karenanya tidak sama dengan surat berharga dengan surat berhgarga yang keluar. Dalam hal ini, PK bersifat buram (opaque) , karena pembeli tidak mengetahui sama sekali mengenai penjual sebenarnya (original seller) dan penjual tidak mengetahui sama sekali tentang pembeli sebenarnya (original buyer). Kedua pihak bertransaksi secara individual dengan PK dan hanya perlu mengevaluasi karakteristik resiko dari PK tersebut. Pendekatan intermediasi keuangan ini disebut transformasi aset karena PK menciptakan surat berharga keuangan yang baru dengan menjual surat berharga keuangan yang berbeda dari surat berharga yang dibelinya.

C. Penggunaan Dana

·         Tugas utama broker/dealer adalah menyediakan likuiditas terhadap pasar keuangan. Likuiditas pasar meningkat ketika volume transaksi meningkat karena likuiditas mengukur kemampuan untuk menjual surat berharga keuangan pada harga yang pantas (fair market value) pada suatu titik waktu. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bahwa kategori investasi terbesar broker/dealer pada surat berharga jangka pendek dan kategori kas, mewakili 17.2% dan 25.9% dari total.

Jenis Resiko yang dihadapi lembaga keuangan

Dalam beberapa decade terakhir, keuntungan lembaga keuangan semakin baik, namun resiko lembaga keuangan juga meningkat karena kompleksitas produk, industri dan perekonomian.

Secara garis besar, resiko yang dihadapi lembaga keuangan dapat dituliskan sebagai berikut:

  • 1. Resiko Kredit: resiko bahwa aliran kas yang dijanjikan dari pinjaman dan surat berharga mungkin tidak dibayar penuh.
  • 2. Resiko Likuiditas: resiko bahwa kenaikan tiba-tiba dari penarikan kewajiban dapat menyebabkan lembaga keuangan melikuidasi asset dalam waktu yang sangat pendek dan harga yang rendah.
  • 3. Resiko suku bunga: resiko yang diciptakan perusahaan keuangan bahwa maturitas dari asset dan kewajiban tidak sesuai
  • 4. Resiko Pasar: resiko yang muncul pada asset yang diperdagangkan dan kewajiban karena perubahan tingkat suku bunga, nilai tukar dan harga asset lain.
  • 5. Resiko Luar Neraca (Off-Balance Sheet): resiko yang muncul dari perusahaan keuangan sebagai hasil dari aktivitas yang berhubungan dengan asset yang tergantung dan kewajiban-kewajiban.
  • 6. Resiko Nilai Tukar Asing: Resiko yang muncul dari perubahan nili tukar dapat menyebabkan nilai dari asset perusahaan keuangan dan kewajiban didenominasi dalam nilai tukar asing
  • 7. Resiko Negara atau Kedaulatan: Resiko yang muncul karena pembayaran dari peminjam luar negeri dapat tertahan karena adanya interfensi dari dari pemerintah luar negeri .
  • 8. Resiko Teknologi: Resiko yang muncul dari perusahaan keuangan oleh sebuah Perusahaan keuangan ketika investasi teknologi tidak menciptakan simpanan biaya yang terantisipasi
  • 9. Resiko Operasional: Resiko bahwa teknologi yang ada atau sistem penduku dapat rusak atau hancur
  • 10. Resiko Insolvensitas: Resiko bahwa perusahaan keuangan tidak memiliki cukup modal untuk menutup penurunan tiba-tiba dari dari nilai asetnya.

A. Konsolidasi

·         Konsolidasi dalam industri perbankan di Amerika Serikat sejak tahun 1980 hingga 2000 merupakan perubahan yang paling jelas terlihat. Seperti tabel berikut, jumlah bank menurun hingga lebih dari 6000, dimana persentased dari total aset yang dipegang oleh lembaga-lembaga terbesar berganda. Hasilnya adalah 82 bank-bank besar, kurang dari 1 persen dari jumlah bank total- menguasai dua pertiga dari seluruh aset bank. Konsoldiasi dalam industri perbankan tidak spesifik terjadi di Amerika Serikat. Sebuah studi dari bank sentral Negara-negara Sepuluh (G-10)  menemukan tingkat konsentrasi yang tinggi di 13 negara yang mereka periksa. Konsokidasi merupakan hasil dari deregulasi untuk pasar geografis, perubahan dalam teknologi keuangan (seperti securitization dan derivatif), teknologi kominikasi, perubahan dalam teknologi informasi, keinginan untuk mencapai economies of scale, harga saham yang tinggi digunakan sebagai8 mata uang dalam merger dan faktor-faktor lainnya. Konsolidasi umumnya meliputi bank-bank besar dalam satu negara, konsolidasi bank antar negara (cross-border), dan konsolidasi antar bank dan jenis lembaga keuangan lainnya.

Konvergensi

·         Pembedaan tradinsional antara institusi keuangan mulai memudar. Lembaga-lembaga yang beroperasi secara tradisional dalam pasar-pasar yang terpisah secara meningkat menawarkan jenis produk dan jasa yang tidak dapat dibedakan. Seperti yang diperhatikan oleh Alan Greenspan: “evolusi dari teknologi keuangan sendiri telah merubah selamanya kemampuan kita untuk menempatkan perbankan komersial, perbankan investasi, penjamin asuransi, dan penjualan asuransi dalam kotak yang benar-benar terpisah” (Sicilia dan Cruikshank, 2000,217). Sebagai contoh, perusahaan asuransi jiwa menawarkan produk yang memiliki karakteristik tabungan, sementara dana pensiun dan produk yang berhubungan dengan pasar  mulai ditawarkan oleh bank-bank melalui operasi subsidiaritasnya. Bank-bank telah merasakan tekanan untuk mendiferensiasikan produk karena keinginan konsumen untuk berhubungan dengan satu lembaga untuk berbagai kebutuhan keuangan.

Unbundling

·         Meskipun konsolidasi perbankan telah mengambil tempat dalam industri perbankan, ada beberapa tren terkati yang memerlukan perhatian. Pertama, jasa tradisional yang ditawarkan oleh bank komersial dipecah dan ditawarkan pula oleh broker, perusahaan asuransi dan perusahaan jenis lainny. Karena ukuran mereka, bank-bank  masih merupakan lembaga keuangan yang dominan, dan mereka akan mungkin tetap begitu dalam jangka pendek seiring mereka mengembangkan penawaran jasa keuangan melalui akuisis dan aliansi strategis.

Demutulalization

·         Kedua, demutualisasi terjadi di Amerika serikat thrift industry pada thaun 1980, dan kini terjadi pada industri asuransi. Perusahaan pemegang kebijakan merubah bentuk kerjasama bersama mereka melalui demutualisasi untuk menjadi kepemilikan pemegang saham. Ini memberi mereka akses kepada pasar modal, dan fleksibilitas untuk menggunakan saham untuk melakukan akuisisi

Privatisasi

·         Ketiga, beberapa perusahaan atau lembaga keuangan milik pemerintah telah diprivatisasi. Fannie Mae (Federal National Mortgage Association), Freddie Mac (Federalh Home Loan Mortgage Corporation) , Sallie me(Student Loan Marketing Associaton) di Amerika Serikat, Credit Lyonnais di Perasncis, dan Banespa di Brazil merupakan contoh-contoh kepemilikan pemerintah yang telah diprivatisasi.

Nationalisasi

·         Menurut Jurgen E Schrempp, chairman dan CEO dari DaimlerChrysler, mengemukakan bahwa ada reaksi negatif terhadap globalisasi pada abad ke dua puluh satu (Garten, 2001) .Rolf-E. Breuer, CEO dari Deutsch Bank juga mengatakan bahwa nasionalisasi, bukan globaliasai yang menjadi tren yang bertumbuh paling cepat. Sebagai contoh, Credit Suisse First Boston (CSFB) dan bank investasi lainnya mengurangi kontak mereka dengan taiwan setelah CSFB dihukum karena melakukan bisnis di sana. China menurunkan CSFB sebagai penjamin emisi dari perusahaan telecom terbesar keduanya, Unicom Group.

 

 

SUMBER : http://tiaphari.com/2008/01/26/lembaga-keuangan-non-bank-dan-bank-perusahaan-keuangan-di-indonesia/



PERAN LEMBAGA KEUANGAN BANK DAN NON BANK:BANK SENTRAL

PERANAN LEMBAGA-LEMBAGA KEUANGAN

PENGERTIAN LEMBAGA KEUANGAN
Semua badan atau Lembaga yang melalui kegiatannya di bidang keuangan menarik dana dari dan menyalurkannya ke masyarakat.

JENIS LEMBAGA KEUANGAN
Lembaga Keuangan terdiri dari bank-bank umum serta lembaga keuangan nonbank. Bank umum dalah bank-bank yang kewajiban-kewajibannya terdiri dari saldo rekening Koran. Di Indonesia bank-bank umum ini meliputi ban-bank devisa (baik milik pemerintah maupun swasta), bank asing serta bank pembangunan. Sedang lembaga-lembaga keuangan nonbank terdiri dari lembaga-lembaga yang bergerak dalam pasar modal atau dalam pengumpulan modal seperto bank-bank dan lembaga tabungan, perusahaan asuransi, lembaga-lembaga penanaman modal, lembaga pension dan sebagainya.

 


FUNGSI LEMBAGA KEUANGAN
Lembaga keuangan sebagai badan yang dalam kegiatannya di bidang keuangan menarik uang/dana dari dan menyalurkannya ke dalam masyarakat mempunyai fungsi :

1. Penghimpun dan penyalur dana
2. Pemberi pengetahuan dan informasi
3. Pemberi jaminan dan
4. Likuiditas

LEMBAGA KEUANGAN BUKAN BANK

Peranan Lembaga Keuangan Bukan Bank di Indonesia sangat penting, terutama dalam rangka menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya dalam bentuk pinjaman jangka menengah dan panjang. Di samping itu diapun mempunyai tugas dalam penyertaan modal dan pembelian surat-surat berharga lainnya.
Untuk langkah tersebut pada tahun 1976 dibentuklah PT. Danareksa yang bertugas membeli saham-saham dan memecahnya menjadi sertifikat kecil agar dapat dibeli oleh masyarakat.

 

PERANAN DAN FUNGSI BANK SENTRAL

Bank Sentaral adalah bank yang ditugasi intuk mengawasi dan memanipulasi jumlah uang yang beredar agar sesuai dengan yang diperlukan, baik untuk keperluan transaksi, berjaga-jaga maupun spekulasi, sehingga roda perekonomian dapat berjalan lancer. Karena itu Bank Sentral pada umumnya mempunyai dua peranan, yaitu sebagai salah satu unsure penguasa moneter yang berwenang untuk melaksanakan kebijakan moneter, dan sebagai lembaga yang diberi wewenang untuk mengatur, mengawasi dan mengendalikan system moneter yang ada dalam satu masyarakat atau Negara.

 

 

SUMBER : http://yunirestiani.blogspot.com/2011/05/peran-lembaga-keuangan-bank-dan-non.html